*

*

Ads

FB

Senin, 26 September 2016

Petualang Asmara Jilid 038

Melihat sepak terjang pemuda gundul itu, Loan Khi Tosu terheran-heran. Dia tahu bahwa ayah anak ini memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripadanya, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan anak ini, luar biasa anehnya dan sama sekali bukan ilmu silat Siauw-lim-pai biarpun ada terasa olehnya dasar-dasar gerakan ilmu silat Siauw-lim-pai.

Demikian tajam pendengaran tosu setengah buta ini sehingga pendengarannya lebih tajam menangkap setiap gerakan daripada pandang mata seorang yang awas! Cepat dia menggerakkan tongkatnya pada saat yang tepat dan robohlah Kun Liong, tertotok jalan darah di pundaknya. Beberapa orang segera menindih tubuhnya dan kaki tangannya dibelenggu dengan tali terbuat dari kulit kerbau yang kuat!

“Wah, kalian ini orang-orang sesat yang jahat sekali ! Apakah kalian tidak mempedulikan hukum lagi? Dimana perikemanusiaan kalian? Tidak tahukah kalian akan hukum dunia dan akhirat?”

Akan tetapi delapan orang itu hanya tertawa seolah-olah mendengar kelakar yang lucu. Perut Kun Liong makin terasa panas. Kalau saja tubuhnya dapat digerakkan, tidak lumpuh oleh totokan Loan Khi Tosu yang lihai, kiranya dia masih mampu meloloskan diri dari belenggu itu. Kini tidak ada lain jalan untuk melampiaskan kemarahannya selain dengan suara mulutnya.

“Loan Khi Tosu, engkau berpakaian pendeta akan tetapi hatimu kejam melebihi iblis. Engkau seorang munafik tak tahu malu. Pakaian pendeta yang kau pakai hanya untuk menutupi kekotoran batinmu. Engkau membunuhi manusia tanpa berkejap mata, bukan karena matamu lamur, melainkan karena mata batinmu sudah buta sama sekali!”

“Bukkkk!!”

Untung Loan Khi Tosu masih ingat bahwa pemuda gundul itu amat penting bagi Pek-lian-kauw, kalau tidak tentu dia sudah membunuhnya dengan tongkatnya, bukan hanya menggebuk punggung pemuda itu.

Akan tetapi karena Kun Liong tak dapat mengerahkan sin-kangnya, gebukan itu cukup membuat punggungnya seperti patah, nyeri bukan main rasanya sampai menembus ke tulang sumsum. Biarpun demikian, dia tidak mengeluh, hanya memejamkan mata sebentar menahan rasa nyeri, kemudian membuka mata setelah rasa nyerinya berkurang dan memaki lagi.

“Ouw Ciang Houw manusia cabul! Engkau pun munafik besar, aksinya saja berpakaian indah mewah seperti sastrawan, berlagak seperti orang terpelajar dan sudah kenyang membaca kitab, akan tetapi agaknya engkau menghafal semua ayat kitab suci hanya untuk pamer, padahal sebetulnya, di balik semua keindahan itu terdapat kebusukan yang menjijikkan! Engkau tukang memperkosa wanita, perampas isteri orang dan tidak segan membunuh mereka. Agaknya, isteri semua temanmu ini pun sudah kau incar…”

“Desss!!”

Ouw Ciang Houw mengirim pukulan keras ke arah dada. Karena tidak ingin membunuh, biarpun amat marah, sastrawan itu hanya menggunakan tenaga kasar sehingga Kun Liong menjadi pingsan! Pukulan itu seperti mengusir semua hawa dari dadanya, menghentikan napasnya.






“Siancai… kau terlalu sembrono, Ouw-sicu! Dia bisa mati kalau tidak kubebaskan totokannya!”

Dengan tongkatnya, tosu itu menotok pundak Kun Liong sehingga terbebas dari totokan. Biarpun masih pingsan, pemuda gundul itu dapat bernapas lagi dan bebas dari cengkeraman maut.

Setelah Kun Liong siuman, dia mendapatkan dirinya dipanggul oleh seorang di antara para anggauta Pek-lian-kauw. Rombongan itu telah melanjutkan perjalanan dan hari sudah mulai gelap sehingga mereka berjalan dengan tergesa-gesa untuk dapat keluar dari hutan itu sebelum gelap.

Kun Liong mendongkol bukan main. Dia dipanggul seperti seekor babi yang dibelenggu kuat-kuat, kepalanya tergantung di belakang punggung orang tinggi besar itu, di dekat ketiak sehingga terpaksa hidungnya tersiksa oleh bau yang keluar dari ketiak penuh bulu dan keringat itu! Dia tahu bahwa ketiak berkeringat mengeluarkan bau tak sedap, akan tetapi belum pernah hidungnya tersiksa seperti ini, begitu dekat terus-menerus dengan ketiak yang bukan tak sedap lagi baunya, melainkan keras menyengat membuat dia ingin muntah! Apalagi kepalanya tergantung terus mendatangkan pusing!

Betapa girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa totokannya telah terbebas! Dengan hati-hati dia menggerakkan sin-kang dari pusarnya, dan dengan bantuan sin-kang ini dia mengerahkan ilmu melemaskan diri Sia-kut-hoat dan berhasillah dia meloloskan tangannya yang dapat dilemaskan itu dari belenggu. Karena sudah tidak tahan lagi, pertama-tama yang dilakukan adalah menampar pundak orang yang memanggulnya.

“Krekkk!”

Tamparan itu membuat sambungan tulang pundak orang itu terlepas. Orang itu memekik dan tubuh Kun Liong terlepas. Tentu saja dia terbanting karena kedua kakinya masih terbelenggu. Sebelum dia sempat melepaskan belenggu kakinya, Loan Khi Tosu sudah menotoknya kembali dan kedua tangannya sudah dibelenggu lagi dengan lebih erat daripada tadi!

Sekali lagi dia dipanggul oleh orang lain dan kini oleh Kiang Ti sendiri, dengan tubuh bagian atas di depan agar kedua tangannya dapat selalu diawasi oleh pemanggulnya. Kembali kepalanya tergantung, akan tetapi hidungnya tidak tersiksa lagi biarpun hidung itu kini sering terbentur pada perut Kiang Ti!

Rombongan itu bermalam di sebuah kuil di luar hutan. Mereka membagi-bagi makanan, akan tetapi Kun Liong tidak mau makan. Dia tidak memaki lagi, hanya diam saja dan diam-diam dia mencari akal bagaimana dapat lolos dari orang-orang lihai itu. Dia maklum bahwa yang amat lihai hanyalah tiga orang, Loan Khi Tosu, Ouw Ciang Houw, dan Kiang Ti. Kalau bisa lolos dari tiga orang ini, mudah saja mengalahkan lima orang anggauta Pek-lian-kauw.

Dia mendengarkan percakapan mereka dan tahulah dia bahwa ternyata ada kontak hubungan antara Pek-lian-kauw dan Kwi-eng-pai yang dipimpin oleh Si Bayangan Hantu. Sedangkan Kiang Ti sebagai murid Si Bayangan Hantu yang sudah berdiri sendiri dan mengetuai Ui-hong-pang, menjadi perantara.

Inilah sebabnya mereka dapat bekerja sama, sedangkan Ouw Ciang Houw berniat untuk membantu atau menghambakan diri kepada Si Bayangan Hantu yang terkenal sebagai seorang di antara Lima Datuk Kaum Sesat yang sakti dan berpengaruh. Karena dia juga menggunakan Kiang Ti sebagai perantara, maka tentu saja dengan senang hati dia bergabung dengan Pek-lian-kauw.

“Dengan bantuan yang amat berharga dari Ketua Kwi-eng-pai, pinto yakin bahwa perjuangan rakyat akan berhasil dalam waktu singkat!” kata Loan Khi Tosu dengan suara penuh semangat.

Ingin sekali Kun Liong berteriak membantah, akan tetapi tubuhnya terlampau lemah dan lemas sehingga dia hanya membantah dalam hati saja. Huh, betapa banyaknya di dunia ini orang-orang seperti Loan Khi Tosu. Dunia penuh dengan manusia-manusia yang mencuri dan membonceng nama rakyat demi kepentingan diri pribadi. Sungguh tak tahu malu manusia-manusia seperti itu.

Sejarah telah menunjukkan betapa kekuasaan-kekuasaan jatuh bangun di dunia ini, dan semua kekuasaan itu, pada saat bangkit, pada saat berusaha merenggut kekuasaan, selalu mempergunakan nama rakyat jelata! Demi rakyat! Pencinta rakyat! Dan masih banyak lagi nama-nama yang dipakai untuk tercapainya cita-cita mereka.

Pemerintah yang sekararang ini, di bawah kekuasaan Kaisar Yung Lo, pada waktu memperebutkan tahta kerajaan dengan keponakannya sendiri, pada waktu perang saudara, juga mempergunakan nama rakyat untuk memperoleh dukungan. Sebaliknya, pemerintah lama sebelumnya juga selalu membonceng kepada nama rakyat. Dengan sendirinya rakyat menjadi pecah belah, karena yang mendukung dianggap rakyat sedangkan yang tidak mendukung tentu saja dianggap musuh! Dan musuh ini tentu saja dianggap rakyat oleh pihak lawan. Dengan sendirinya rakyat yang menjadi korban, menjadi bingung dijadikan permainan orang-orang seperti

Loan Khi Tosu dan para pimpinan Pek-lian-kauw. Setelah kini Yung Lo menang dan menjadi kaisar, timbul penentangnya, yang paling hebat adalah Pek lian kauw yang kembali menggunakan nama rakyat sebagai dasar perjuangannya! Hendak dibawa ke manakah rakyat ini? Apakah selama dunia berkembang rakyat hanya akan menjadi permainan belaka demi pemuasan nafsu ambisi beberapa gelintir manusia yang menamakan diri sebagai pemimpin-pemimpin rakyat ?

Pernahkah ditemui mereka yang tadinya menggunakan nama rakyat dalam perjuangan, setelah berhasil dalam perjuangannya, benar-benar ingat kepada rakyat jelata? Ataukah mereka itu lalu lupa karena mabok akan kemenangan, mabok akan kedudukan dan kemuliaan, seperti pemetik buah lupa akan bangku yang diinjaknya untuk mengambil buah setelah buah itu terdapat olehnya? Rakyat hanya dianggap sebagai bangku tempat berpijak, atau sebagai batu loncatan, atau sebagai boneka-boneka!

“Harap Totiang jangan khawatir! Saya berani pastikan bahwa Subo (Ibu Guru) tentu akan suka bekerja sama dengan Pek lian kauw, karena cita-cita Subo hanya untuk menghancurkan manusia she The itu, dan juga pemerintah yang banyak merugikan golongan kami. Kalau Subo sendiri turun tangan, siapa yang berani menentang? Kwi eng pai terkenal di seluruh dunia, dan nama besar Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, siapa yang tidak gentar mendengarnya?” kata Kiang Ti dengan bangga, menyombongkan nama besar gurunya.

“Sayang saya sendiri belum beruntung berhadapan dengan gurumu itu, Saudara Kiang. Akan tetapi saya yakin dengan perantaraanmu, saya akan dapat menghadap Kwi eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) yang namanya sudah lama kudengar itu sebagai seorang di antara para datuk dunia persilatan. Kabarnya, di antara para datuk, ada dua orang wanita, pertama adalah Kwi eng Niocu, dan ke dua adalah Siang tok Mo li. Benarkah?” tanya Ouw Ciang Houw.

Kiang Ti, Ketua Ui hong pang mengangguk-angguk.
“Benar demikian, akan tetapi aku sendiri pun belum pernah bertemu dengan Siang tok Mo li (Iblis Betina Racun Wangi). Kabarnya dia masih belum tua benar dan amat lihai, sungguhpun aku tidak percaya akan lebih lihai dari Subo.”

“Dan siapakah datuk-datuk yang lain, Kiang pangcu?”

“Yang saya ketahui hanya tiga orang. Pertama adalah Subo, ke dua Siang tok Mo li, dan ke tiga Ban tok Coa ong. Yang dua orang lagi entah siapa. Akan tetapi, saya sendiri belum pernah bertemu dengan mereka dan hanya mendengar dari Subo saja. Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan mereka, bahkan Subo sendiri pernah melarang saya menyebut-nyebut nama mereka. Menurut desas-desus, menyebut nama mereka saja sudah cukup untuk mengundang mereka”

“Ihhh...!” Ouw Ciang Houw yang berwatak kejam itu merasa ngeri!

“Siancai... ketua kami ingin sekali dapat mengadakan kontak dengan para datuk. Mudah-mudahan melalui hubungan dengan Kwi eng pai, kami akan dapat menghubungi pula para datuk yang lain,” kata Loan Khi Tosu.

Percakapan dihentikan. Mereka mengaso dan Kun Liong yang amat tertarik akan percakapan tadi pun mencoba untuk tidur. Akan tetapi dia tidak dapat tidur. Percakapan tadi membuat dia teringat kepada Ban tok Coa ong Ouwyang Kok kakek yang mengerikan seperti ular itu. Si Raja Ular (Coa ong) itu patut menjadi datuk kaum sesat, kekejamannya luar biasa, lebih-lebih puteranya yang bernama Ouwyang Bouw itu.

Meremang bulu tengkuk Kun Liong kalau dia teringat akan ayah dan anak raja ular itu. Kepalanya menjadi gundul gara-gara ayah dan anak itulah. Setelah dia digigit ular beracun dan terkena jarum beracun Ouwyang Bouw, rambutnya rontok semua! Kelak dia harus memberi hajaran kepada Ouwyang Bouw agar tidak ada orang yang dibikin gundul seperti dia lagi, memberi hajaran sampai bertobat betul-betul baru dia mau sudah!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu sudah siap untuk meninggalkan kuil tua melanjutkan perjalanan. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan kaget seorang di antara para anggauta Pek lian kauw di luar! Semua orang kecuali Kun Liong yang masih terbelenggu dan rebah meringkuk di atas lantai dingin, lari ke luar.

Kun Liong mendengar suara orang berbantahan di luar kuil, akan tetapi dia tidak dapat mendengar jelas dan tidak dapat melihat karena tak dapat bergerak dari tempat itu. Tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat masuk. Cuaca masih suram karena hari masih amat pagi dan sinar matahari baru sedikit menyinari ruangan dalam kuil itu di mana dia berada.

“Engkau Kun Liong, bukan?”

Terdengar suara bayangan itu yang tidak begitu jelas bentuk wajahnya, namun bentuk tubuhnya jelas menunjukkan seorang dara remaja.

Tentu Hwi Sian, siapa lagi? Berdebar jantung Kun Liong dan mukanya terasa panas karena jengah teringat akan ciuman di kepalanya. Sebelum dia sempat menjawab pertanyaan aneh itu, karena kalau Hwi Sian perlu apa bertanya lagi apakah dia Kun Liong, dara remaja itu menggerakkan sebatang pedang panjang yang mengeluarkan sinar berkeredepan dan... sekali tebas saja belenggu kaki di tangan Kun Liong putus semua! Bukan main hebatnya gerakan pedang ini!

Kun Liong yang telah terbebas dari totokan dengan sendirinya malam tadi, menggosok gosok pergelangan kedua tangannya yang terasa nyeri dan hampir mati rasa. Kini dia memandang terbelalak. Dara ini bukan Hwi Sian! Sama sekali bukan, biarpun dara remaja yang agak lebih muda ini juga cantik sekali, cantik dan sikapnya tenang, bahkan agak dingin. Sikap dingin itu terasa sekali pada bentuk mulut dan dagunya yang mengeras, dan matanya yang keras seperti baja, memandang seperti tanpa perasaan.

“Kau... kau siapakah?”

“Engkau tentu lupa lagi kepadaku, setelah berpisah lima tahun. Aku Yo Bi Kiok.”

Petualang Asmara







Tidak ada komentar: